Tuesday, August 31, 2004

Cita-Cita

Hemm..., Kalau kita amati secara seksama ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran untuk hidup kita terutama untuk menjalani hari yang belum datang. Salah satunya adalah cita-cita, bahkan seorang pemulung pun pasti mempunya cita-cita atau keinginan yang hendak dicapainya. Ada keinginan yang terlalu mengawang-awang tetapi ada juga yang "Down To Earth", begitulah istilahnya....

Aku teringat kepada salah seorang tetanggaku ketika dia masih kecil (waktu itu masih SD), ketika ditanya apa sih cita-citanya nanti. Jawabannya sangat sederhana, "Ratih sih pengen jadi pembantu di perumnas aja ah... biar deket rumah, jadi bisa ngurus bapak sama emak". Mungkin kita akan berpikiran, ah anak ini dangkal sekali cita-citanya... kenapa tidak mau menjadi presiden, menteri, wanita karir, tentara, polisi, atau apalah.... yang penting bukan pembantu. Tapi kalau kita mau telaah perkataannya, sebenarnya ada arti yang cukup bagus....

Sebelumnya aku ceritakan dahulu lokasi daerahku, aku tinggal di sebuah kampung di kota satelit jakarta. Bersebelahan dengan kampungku terdapat perumnas, sebenarnya sih gak bersebelahan sekali karena ada jalan utama dan kali yang memisahkannya... namun jarak tempuh tidak terlalu lama, paling cuma 10 menitan.... Di kampung-kampung sekitar perumnas ini, banyak ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari pulang pergi bekerja sebagai pembantu di perumnas tersebut. Dan sering kali mereka melewati rumahku dan tetanggaku itu... Mungkin dari sini awal "cita-cita" tetanggaku itu....

Kehidupan orangtua tetanggaku ini cukup sederhana, dan tetanggaku ini adalah anak bungsunya. Mungkin dari keprihatinannya, dia berkata apa adanya... tanpa harus ingin mengada-ada yang mungkin tidak akan sanggup dicapainya. Menjadi pembantu buat sebagian orang adalah pekerjaan rendahan, tetapi sebagian orang lagi menjadikan pengabdian... Tapi bukan itu saja, yang membuat tetanggaku mengatakan hal itu... dia juga berpikir mungkin pada saat dia dewasa nanti, dia tidak akan bisa berbuat banyak karena keterbatasan pendidikan yang dimiliki padahal persaingan sangat berat. Belum lagi lokasi kerja yang mungkin tidak dekat dengan rumah, kata orang sih tua di jalan.... Sedangkan untuk ke perumnas, tidak butuh ongkos... jalan kaki pun sampai tanpa terasa capai. Dan bila terjadi apa-apa, rumah pun tidak jauh... Dan Mungkin pada saat dia dewasa, rumah buat yang berkarir hanya tempat berteduh tanpa sempat berberes, dan mereka pasti membutuhkan tenaga pembantu (terasa kan kalau pembantu sedang pulang lebaran). Gaji pembantu pun mungkin akan lebih tinggi dari sekarang, minimal sama dengan UMR. Dan yang terpenting adalah dia ingin juga bisa mengurusi orang tuanya, yang mungkin tidak akan bisa dilakukan bila dia kerja jauh dari rumah. Alangkah mulianya bukan....

Dari hal tersebut, saya menarik pelajaran yang cukup membuat saya berpikir.... Pertama, ungkapkanlah diri kita seadanya, jujur, dan jangan terlalu mengada-ada. Kedua, Selalu berpikir ke depan... apakah kita akan mampu mengejar cita-cita kita. Kalau tidak sanggup, ya lebih baik menurunkan target daripada kecewa terhadap diri sendiri dan yang akan didapatkan. Ketiga, apapun yang kita lakukan ada baiknya kita memikirkan orang-orang yang berjasa kepada kita. Buatlah mereka bahagia walau kemampuan kita hanya kecil dan tidak dapat mengembalikan apa yang telah mereka berikan.....

ROSES, 31 Agustus 2004.