Sadar gak kl kita melakukan ini? Bagaimana tanggapannya?
Pagi ini, isengku kumat... selain lagi malas juga, akhirnya milih naek KRL Ekonomi biasa dari sta Bojonggede ke Sudirman. Rencana awal naik KLR 517 arah Kota, turun di Manggarai, nunggu KRL 519 Depok - Tanahabang. Ternyata.., eh ternyata.... penyakit KAI mulai kambuh dengan memberikan 517 satu set lagi. Untungnya pengumuman itu diberikan ketika KRL 515 masuk stasiun Bojonggede. Akhirnya aku pun melompat naek, rencana ganti dengan naik KRL 519 dari stasiun asalnya... Depok Lama. Penuh, pasti... namanya KRL Ekonomi kalau jam kerja pasti penuh.
Turun di Stasiun Sudirman sudah disambut oleh antrian Kopaja P19 dan Metromini S604/640. Seperti biasa, naiklah aku ke P19 yang ngetem itu.... dari situlah, aku mulai berkeliling melihat kebiasaan orang2 di bis tersebut. Ternyata, dari sekian banyak penumpang, sekitar 90%an hanya membayar 2000 perak. Padahal tarifnya 2500, jauh dekat. Entah itu pakaiannya kucel atau rapih, ganteng atau jelek, atau apalah.... seharusnya semua membayar 2500 rupiah. alhamdulillahnya, aku termasuk yang 10% itu.
Kalau yang "berpakaian agak kucel", ya aku maklumi lah... biasanya kalau bukan joki 3in1, biasanya mereka pegawai rendahan lah.... (maaf bukan bermaksud merendahkan, hanya mengemlompokan saja). Tapi ini banyak yang necis, rapih, klimis, mungkin bawa laptop di tasnya, oh ya... hp high end (malah ada yang ber-blackberry). Tapi... tetep hanya memberikan 2000 saja ketika ditagih ongkos. Ada yang turun di Karet, Atmajaya, Polda, Bapindo.... trus mungkin sampai blok M (aku turun di pintu senayan).
Dalam hati aku berpikir, terkadang kita merelakan harga ribuan bahkan ratusan ribu untuk hal-hal yang kita butuhkan, dan bukan merupakan kewajiban kita. Sedangkan pada saat membayar 2500 karena jarak pendek..., kita merasa berat... sehingga "memangkas" menjadi 2000 saja.... Apakah kita tidak sadar sering mengecam para koruptor padahal kita juga korupsi? Coba kita hitung, 500 untuk 1x jalan berarti 1000 per hari (2x jalan untuk PP)... itu kalau cuma satu kali naek bis. Dalam seminggu kita bekerja 5 hari, dan ada 52 minggu... berarti 1000 x 5 x 52 = 260.000 rupiah / tahun. Biarpun kecil tapi coba..... berapa nilainya..... kl ternyata mayoritas penumpang melakukan hal yang sama. Kalau satu bis itu ada 100 orang dalam sehari yang membayar 2000, berarti ada kekurangan pendapatan sebesar 26jt/thn yang dialami oleh supir dan kenek.
Alhamdulillah, karena sering diingatkan istriku juga... aku ya selalu memberi ongkos yang sesuai tarif. Bahkan untuk beberapa angkutan (Ojek, Becak, dsb) tanpa tarif jelas, aku
berusaha melebihkan... ya mudah-mudahan digantikan oleh Yang Maha Kuasa. Ya ini sih terserah kita, banyak alasan mengapa hanya memberikan 2000 bukan 2500. Terkadang aku juga melakukannya kalau bis-nya ngetem terlalu lama (misal lebih dari 15 menit), atau jalan pelan dan sering berhenti.... Selain dari itu sih aku berusaha membayar kewajibanku.....
Tuesday, August 26, 2008
Wednesday, August 06, 2008
The Story of Life
Dua hari yang lalu, aku dapat berita yang cukup menyedihkan. Salah satu suami sepupuku meninggal dunia karena sakit. Umur baru 38 tahun, dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil semua. paling besar 11 tahun, kedua 5 tahun, yang ketiga 2 tahun... semuanya perempuan. Kabar sakitnya memang sudah lama, mungkin sejak 2 tahun yang lalu... dari tubuhnya yang gemuk sampai kurus kering. Hanya saja sejak 1 bulan yang lalu penyakitnya tambah parah, dan akhirnya... Sang Khalik memanggilnya.
Buat aku menjadi sebuah peringatan, tidak ada yang bisa diduga... mungkin dalam kasus saudaraku ini masih ada tanda-tanda, ya minimal memberikan waktu dia untuk mempersiapkan diri untuk memperbaiki bekalnya di alam yang lain. Tapi buat kita-kita yang "merasa" sehat-sehat saja, hemm...., waktunya kita tidak tahu bahkan kita mungkin lupa bakal dijemput sang malakul maut. Yang tersisa hanyalah kesedihan di keluarga yang kita tinggalkan.
Aku teringat oleh seseorang yang pernah berkata," aku akan bertobat setelah dapat uang banyak...." Masya Alloh, apakah kita yakin bahwa kita masih bisa mengejar harta sebelum maut datang di hadapan kita? Apakah kita yakin bahwa umur kita cukup untuk menapaki dunia ini? Ya mudah-mudahan, perbaikan diri ini untuk mempersiapkan bekal di hari akhir adalah bagian dari tobat yang diterima-Nya. Semoga dikabulkan oleh Alloh SWT....
Buat aku menjadi sebuah peringatan, tidak ada yang bisa diduga... mungkin dalam kasus saudaraku ini masih ada tanda-tanda, ya minimal memberikan waktu dia untuk mempersiapkan diri untuk memperbaiki bekalnya di alam yang lain. Tapi buat kita-kita yang "merasa" sehat-sehat saja, hemm...., waktunya kita tidak tahu bahkan kita mungkin lupa bakal dijemput sang malakul maut. Yang tersisa hanyalah kesedihan di keluarga yang kita tinggalkan.
Aku teringat oleh seseorang yang pernah berkata," aku akan bertobat setelah dapat uang banyak...." Masya Alloh, apakah kita yakin bahwa kita masih bisa mengejar harta sebelum maut datang di hadapan kita? Apakah kita yakin bahwa umur kita cukup untuk menapaki dunia ini? Ya mudah-mudahan, perbaikan diri ini untuk mempersiapkan bekal di hari akhir adalah bagian dari tobat yang diterima-Nya. Semoga dikabulkan oleh Alloh SWT....
Subscribe to:
Posts (Atom)