Monday, October 15, 2007

Eid Mubarak...!

Setiap tahun, bagi umat islam, perayaan 1 Syawal atau Idul Fitri...atau lebih dikenal dengan Lebaran, adalah hari yang ditunggu2..... Hari suka cita kemenangan, Hari dimulainya kehidupan baru..., seharusnya.....

Sayangnya makna lebaran tidak diartikan sepenuhnya, bahwa kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu di bulan puasa dimana kita mampu menahan lapar, dahaga, dan hubungan suami istri di siang hari. Kita bersabar menunggu datangnya maghrib, agar dapat menikmati nikmat yang dibatasi di siang hari. Agar setelah Ramadhan selesai, itu semua masih dalam kendali kita... kita tidak terlalu mengutamakan hawa nafsu kita. Sayang.....

Ternyata Lebaran, tidak menjadi makna seperti itu, yang terjadi adalah kemewah-mewahan dan foya-foya yang jelas-jelas dilarang oleh Islam. Untuk anak2, mungkin masih dimaklumi... Selain, mungkin, menjadi hadiah untuk kemauan puasa mereka juga agar mereka ikut bersenang2. Tapi... untuk yang dewasa? Hemm... apakah perlu, tanyakan ke hati masing2? Berlebaran dengan baju baru... tidak ada yang melarang, tetapi kalau tujuannya hanya untuk pamer gengsi.... lebih baik jangan, ibadah puasa kita seperti tidak bernilai jadinya. Hakikat Lebaran adalah kemenangan atas hawa nafsu, lalu kenapa kita berfoya2 dalam berlebaran... bukankah itu berarti kekalahan....

Ya anyway.... its our celebration. Rayakan dengan sederhana, karena banyak saudara2 kita membutuhkan dibandingkan harus berfoya-foya......

TAQOBALALLAHU MINNA WAMINKUM SHIYAMANNA WASHIYAMAKUM MINAL AIDIN WALFAIDZIN..... MOHON MAAF LAHIR BATHIN....

Thursday, October 11, 2007

Zakat

Hemm..., membaca headline sebuah koran cukup menyedihkan. Hanya karena zakat fitrah, banyak orang yang lebih menderita... berdesak-desakan, bahkan ada yang terluka... Kok bisa ya? Ternyata di negara ini, banyak orang yang masih miskin... minimal miskin hati.

Bukan bermaksud mengejek... atau mencacimaki, tapi itu kenyataan. Masih banyak orang-orang di negara ini yang lebih suka meminta-minta daripada berusaha. Bukan hanya rakyat yang miskin saja, tetapi juga para pejabat-pejabat yang entah sudah punya rumah dan mobil berapa. Hanya satu penyebab: "Mentalitas Yang Jelek, Moral Yang Buruk".

Ingat cerita seorang Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang harusnya menjadi contoh.. karena beliau hidup sesudah Rasulullah Wafat, tetapi masih mengamalkan ajarannya dengan benar. Suatu ketika pembagian zakat fitrah, maka Khalifah Umar ini (bukan Umar bin Khattab) meminta para asistennya untuk mendata penduduk yang WAJIB mendapatkan zakat. Dengan penuh amanah, para asistennya pun berkeliling negeri untuk mendata.... Setelah waktu yang ditentukan, berkumpullah mereka di hadapan sang khalifah. Laporannya cukup mencengangkan, "Ya Khalifah, kami sudah berkeliling negeri ini... namun, kami tidak menemukan seorang pun yang berhak mendapatkan zakat ini". Sang khalifah tidak percaya, namun para asistennya bahkan meyakinkan bahwa penduduk negeri telah mengalami peningkatan kemakmuran sejak dipimpinnya. Namun, salah seorang asistennya berani mengatakan suatu hal yang lagi-lagi cukup mengagetkan. "Ya Khalifah, sebenarnya ada satu orang yang kami yakin dia berhak mendapatkan zakat". Sang khalifah segera bertanya siapakah orangnya. Asisten itu menjawab, "Engkau lah yang berhak menerima zakat itu, wahai khalifah".

Dalam kehidupan Khalifah Umar, memang sangat sederhana... tapi bukan ukuran sederhana pejabat-pejabat kita sekarang. Sederhana, tetapi setiap anggota keluarga punya kendaraan pribadi yang nilainya juga tidak murah. Sederhana, tetapi kalau makan siang dan malam selalu di restoraran mahal.... Bukan itu. Ketika sebelum menjabat sebagai khalifah, Umar hidup dalam taraf yang cukup mewah. Namun, begitu diamanahkan... maka semua kekayaan itu dia lepaskan. Bahkan baju yang dipakai pun hanya satu.. yaitu baju yang dipakainya. Jadi wajar saja bila asistennya mengatakan sang khalifah berhak mendapatkan zakat.... Tapi sebenarnya bukan ini yang ingin dibahas. Ketika para asisten khalifah berkeliling untuk mendata, masyarakat tidak mau didaftarkan sebagai penerima zakat. Mereka lebih senang mengeluarkan zakat.... walau kehidupan mereka sebenarnya masih kekurangan. Mentalitas mereka telah terbentuk, agar selalu menjadi tangan di atas....

Bandingkan dengan masyrakat kita... betapa jauh perbandingannya. Bila ada orang atau lembaga yang ingin membagikan zakat atau sumbangan secara besar-besaran pasti kerumunan orang akan terjadi, entah mereka berhak atau tidak. Bahkan beberapa orang memang mempunyai profesi seperti itu, mengumpulkan zakat dari satu tempat ke tempat lain, dan bila semua diakumulasi bisa menghasilkan jumlah yang tidak sedikit... Bahkan sampai ada yang bisa menjual beras zakat... Masya Alloh. Atau contoh lainnya, Idul Adha... banyak orang yagn pergi berkeliling ke tempat2 pemotongan... hanya ingin mengumpulkan daging yang banyak. Daging ini pun mereka jadikan main2... maksudnya tidak menjadi makanan pokok mereka hari itu. Subhanallah......

Entah bagaimana harus merubah pribadi bangsa ini, pantas saja kalau selalu dilecehkan oleh bangsa lain. Karena mentalitas pengemis selalu ada... bahkan makan banyak orang yang menjadikan pengemis sebagai profesinya. Naudzubillahi mindzallik..... Harusnya kita bisa maju, menjadi bangsa yang besar... dan kuat.

Mudah-mudahan hal-hal tersebut dijauhkan dari aku dan keluargaku.....

Monday, October 08, 2007

Indonesia vs Malaysia

Tentu ingatan kita masih segar tentang klaim lagu "RASA SAYANGE" yang digunakan sebagai lagu pariwisata negera tetangga kita, Malaysia. Lagu ini membuat heboh, tidak hanya Rrakyat Mmaluku tetapi juga Bbangsa Indonesia. Sejak kecil kita tahu bahwa lagu tersebut adalah lagu daerah Maluku..., bahkan dengan logatnya saja kita tahu itu dialek sana... menggunakan akhiran "e...". Entah darimana Malaysia bisa mengklaim itu lagu mereka, bahkan merubah kata "E..." disyairnya menjadi "HEY..."

Dan ternyata tidak hanya itu, Batik juga diklaim sebagai budaya mereka... tak ketinggalan dengan wayang. Memang diakui, sejak zaman dahulu... Mmajapahit, sudah banyak penduduk Nnusantara yang melakukan imigrasi ke Tanah Melayu, baik sebagai pelarian maupun dalam tujuan tertentu. Sehingga wajar, budaya2 tersebut juga berkembang di sana. Dan mungkin banyak budaya lain yang diakui di sana, tetapi belum kita ketahui secara pasti.... Biarlah....

Jangankan kebudayaan yang dapat meningkatkan pariwisata, hasil2 karya anak bangsa Indonesia pun lebih disukai di sana. LIhatlah sinetron2 yang juga mempunyai rating tinggi di sana, atau penyanyi kita yang juga banyak populer di sana... dibandingkan sebaliknya. So... biarlah mereka mengklaim... toh, tanpa terasa mereka mengikuti perkembangan bangsa ini... Yakin itu...

Back to Lagu "RASA SAYANGE" dan budaya2 lainnya yang diklaim Malaysia, harusnya pemerintah kita dapat memanfaatkan moment ini untuk iklan pariwisata. Ingat, motto pariwisata mereka adalah "THE TRULY ASIA"... kita bisa buat some kind of joke for this. Kita bisa buat iklan pariwisata dengan mengatakan misalnya "Tetangga kami pun tertarik mengklaim budaya kami, jadi kami lah the Most Truly Asia...." atau apapun temanya dimana isinya adalah Malaysia selalu ingin menjadi Indonesia, dengan keragaman budayanya, kekhasan penduduknya, dan sebaran pulaunya. Inilah nilai plus Indonesia....

Biarlah mereka mengklaim lagu tersebut sebagai lagu mereka, tetapi kita juga bisa mengklaim.. Malaysia adalah pecahan Indonesia, yang tersisa di zaman Nusantara dulu. Bahwa budaya mereka adalah satu dari keragaman budaya Indonesia... Toh untuk budaya melayu, kita punya budaya melayu dari deli serdang, riau, dan aceh.... We are more advanced than them... let them said "IT'S MINE" while the world knows THAT'S BELONGS TO US, ever and ever....

Wednesday, October 03, 2007

Lebaran....

Puasa sudah memasuki minggu ketiga, tentu saja membahagiakan... karena ternyata kita sudah mampu menjalaninya. Namun, permasalahan lain muncul di minggu ketiga ini... yaitu niatan untuk lebaran, apalagi THR sudah ditransfer dari kantor.... hemm, sudah dipastikan belanja lebaran sudah siap dilakukan....

Eits..., untungnya belanja lebaran bukannya tradisi di keluargaku. Aku dan istriku tidak pernah membiasakan untuk belanja persiapan lebaran, berkeliling pasar sekedar mencari baju lebaran. Memang aku membelikan baju lebaran, tapi itu dilakukan sebelum puasa... dan semua persiapan lebaran lainnya yang aku rasa perlu, termasuk belanja makanan atau minuman. Sehingga puasa kami tidak terganggu dengan hal-hal demikian. Itupun tidak jor-joran, paling2 hanya kue2 ringan dan sirop.... that's all, unexpensive foods.

Sabtu kemaren membuat aku takjub, kebetulan aku harus ke atm... Dan kebetulan juga aku dapat giliran jaga di kantor, sehingga pulang kantor aku mampir ke itc depok. walah... aku kaget, ternyata penuh banget..... itu baru di lt 1, karena aku buru2 sehingga tidak melihat lantai lain. hemm..., ternyata tetep saja jor2an dalam belanja lebaran masih jadi tradisi kita. Kl untuk anak2 saja, wajar.... tapi aku lihat juga ibu2 dan bapak2nya gak mau ketinggalan... mereka ikut coba2 pakaian atau sepatu sandal. hemm..... apakah ini hasil puasa ya? Bahkan sekali belanja ada yang bisa menghabiskan uang sampai berjuta2 untuk baju.... belum lagi parsel.

Yang lebih parah lagi adalah ibu2 tetanggaku, ini menurut cerita istriku. Mereka biasanya ramai2 belanja ke bogor, mulai pagi sampai siang..... tentu saja panas2an, dan pasti cape bawa belanjaan. Demi belanja lebaran, akhirnya mereka mengorbankan puasa.... alasannya puasa bisa diqodho. weiii..... siapa bilang segampang itu. Kl kita dalam perjalanan.... jauh, atau sedang sakit... memang kita diperbolehkan batal puasa, dan meng-qodho-nya lain waktu.... tapi buat belanja atau having fun.... its totally different. Naudzubillahi Min Dzallik..... semoga kami terhindar dari hal ini. Ini juga salah satu alasan kami mempersiapkan lebaran sebelum puasa.

Yang penting sebenarnya adalah puasa untuk mengendalikan nafsu. Nah, kita mampu menahan makan minum, bahkan berhubungan badan di siang hari. Tetapi bila kita jor2an dalam belanja lebaran... berarti kita tidak dapat mengendalikan nafsu kita..., nafsu untuk berfoya2. Adakah hadits nabi yang mengatakan harus merayakan lebaran dengan meriah? Adakah Ayat Alloh yang menyuruh merayakan lebaran dengan foya2 (keluar banyak uang bagian dari foya2 kan)? Aloh dan rasul-Nya hanya meminta kita merayakan lebaran dengan membayar zakat agar saudara kita yang berkesusahan ikut merasakan hari kemenangan... gegap gempitanya takbir.

Sampai kapan bangsa ini akan berubah? Di bulan2 lainnya kita bilang kita sedang krismon, rakyat susah..., tetapi mengapa setiap lebaran selalu terlihat mewah. Padahal banyak diantara sodara kita tidak bisa merayakannya...... Lihat saja dampaknya, ada inflasi yang tinggi karena harga meningkat akibat kebutuhan dadakan ini.... kl saja kita merayakan dengan kesesuaian (definisikan sendiri deh)..... mungkin krisis bangsa ini sudah pulih.

Wanna change? its up to you.... its your choice!