Akhirnya, keputusan untuk menaikkan harga BBM di Indonesia direalisasikan pemerintah. Dan memang harus dinaikkan begitu pemerintah mengumumkan kenaikan harga komoditi tersebut. Kenapa? Lah, begitu diumumkan... harga-harga barang ikutan naik. Bila harga BBM akhirnya tidak jadi dinaikkan, tetap saja harga barang tidak akan turun. Seharusnya, pemerintah tidak perlu mengumumkan rencana kenaikannya.... Kalau memang pasti naiknya, ya langsung saja naik. Jadi tidak banyak spekulan yang bermain di atas penderitaan rakyat lainnya.
Memang berat, dengan perekonomian indonesia sekarang dengan jumlah penduduk yang besar, tentu saja subsidi terasa berat. Tapi itu sudah jadi kewajiban negara, karena salah satu tujuan pendirian negara adalah untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Masalah yang muncul adalah orang-orang yang seharusnya tidak menikmati subsidi ikut juga, bahkan menikmati dalam jumlah yang besar. Katakan untuk subsidi bensin (premium), satu hari setiap pemilik kendaraan menikmati subsidi pengisian bahan bakar tersebut yang tidak sedikit lalu dijumlahkan dengan kendaraan yang ada. Harusnya yang disubsidi hanya kendaraan umum saja, kenyataannya susah untuk itu karena tidak ada SPBU khusus angkutan umum.
Keputusan pemerintah untuk mengurangsi subsidi harga barang, dan melakukan subsidi langsung ke orangnya memang bagus... sangat bagus, bila tepat sasaran. Kenyataannya, subsidi dalam bentuk BLT tersebut banyak yang salah sasaran. Lho kok bisa? Lah, iya bisa.... data-data yang dikumpulkan tidak ada yang bisa memverifikasi. Lihat saja di televisi, banyak yang mengantri BLT tersebut membawa motor. Lalu ada juga PNS, dan mungkin banyak lagi orang-orang yang tidak berhak ikut menikmati "sumbangan" pemerintah ini. Kenapa tidak menggunakan metode lain? Yang susah adalah dimanapun di negara ini..., masih ada yang mencoba untuk mengais keuntungan di tengah kesulitan. Dari dana 14 trilyun rupiah (katanya), beberapa persen dijadikan ongkos operasional. Buat apa? toh semuanya sudah bergaji? kenapa ada ongkos operasional? Belum lagi ada potongan-potongan tidak resmi yang dilakukan pada saat pencairan (atau pembagian kupon).
Ya... BBM yang naik karena harga minyak dunia yang memang sedang tinggi, adalah alasan yang tidak bisa dipungkiri. APBN pun harus direvisi agar tidak banyak mengalami defisit. Nah, di APBN (dan APBD tentunya) ada beberapa hal yang harus dikurangi bahkan kalau perlu dihilangkan, yaitu subsidi bagi para pejabat-pejabat pemerintahan (negara/daerah) dan wakil-wakil rakyat di dewan (DPR/DPRD). Lihat saja berapa puluh (mungkin ratusan) juta digunakan sebagai biaya pakaian seorang gubernur, lalu biaya perawatan rumah, kendaraan, belum ditambah dengan biaya komunikasi, dan entahlah biaya-biaya apalagi. Belum lagi biaya (insentif) rapat, biaya perjalanan (yang katanya dinas, tapi bawa keluarga), dan biaya reses (istirahat kok dibayar). Kalau hal-hal tersebut bisa dikurangi, bahkan dihilangkan, pastinya negara juga bisa bernapas lebih lega. Toh, mereka juga mendapatkan gaji yang tidak sedikit. Apakah para pejabat dan wakil rakyat ini memang termasuk dalam kategori "orang yang perlu subsidi"?
Ya mudah-mudahan, situasi ini bisa memperbaiki kualitas bangsa ini. Menjadi lebih mandiri dan tegas, tentunya juga menjadi lebih solid... tidak hanya mementingkan diri sendiri. Ayo Bangkit Indonesiaku....!!!
Monday, May 26, 2008
Wednesday, May 21, 2008
Kebangkitan Indonesia
Kemarin, tanggal 20 Mei 2008, bertepatan dengan peringatan 100 tahun berdirinya Budi Utomo yang dicanangkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, seluruh stasiun tv menampilkan acara yang sama. Acara tersebut terlihat mewah, dengan jumlah pendukung acara yang banyak (ribuan, namanya juga pagelaran kolosal) belum lagi tamu undangan yang memenuhi Istora Senayan. Namun, karena bosan akhirnya pindah channel ternyata TVRI Bandung tidak menyiarkan acara tersebut, hanya sebuah diskusi ttg kebangkitan nasional. Tamunya adalah salah seorang tokoh Jawa barat (lupa namanya). Ketika pembawa acara menanyakan, "Kenapa 100 tahun ini diperingati besar-besaran, padahal banyak rakyat kelaparan, harga mulai naik?" ya kira-kira begitulah pertanyaannya. Jawaban dari tokoh tersebut membuat saya berpikir. Beliau menjawab, "Loh, bangsa kita ini memang senang dengan upacara-upacara. Mau menanam padi, ada upacara. Mau panen, ada upacara. Ya wajar, kalau 100 tahun ini ada upacara."
Mendengar itu, membuat saya berpikir.... Apakah benar? Apakah perlu? Dengan perhitungan kasar, untuk biaya acara tersebut pasti menghabiskan dana milyaran rupiah. Misalnya dari kostum, katakanlah dengan standar biaya 100rb per kostum dengan jumlah pendukung acara hampir 10ribu (lebih dari 5 ribu TNI, ribuan penari, belum lagi pendukung lainnya). Katakanlah 10ribu, dikalikan 100ribu, maka untuk kostum memakan biaya 1000juta alias 1 milyar. belum lagi perlengkapan lainnya. Alangkah sayangnya, dana sebesar itu digunakan untuk perhelatan di saat bangsa ini sedang membutuhkan dana untuk menghadapi krisis.
Apakah tidak boleh mengadakan perhelatan akbar demi rasa nasionalis? silahkan, namun lihat momen yang tepat. Saat ini banyak berita tentang peristiwa bunuh diri akibat cekikan ekonomi, bayi-bayi kurang gizi, penduduk kelaparan, dan banyak berita-berita menyedihkan lainnya. Pada saat ini, rasa nasionalis berkurang karena mereka membutuhkan makan. Bukan semboyan atau kata-kata. Alangkah baiknya, saat ini dana tersebut digunakan untuk perbaikan masyarakat. Ah..., bingung mengatakannya.... Nanti dibilang tidak ada rasa nasionalis. Rasa nasionalis akan muncul bila bangsa bangga akan negaranya, bangsa akan bangga kalau dia merasa tercukupi. Bagaimana nasionalisme akan muncul melihat para pemimpin bangsa foya-foya sedangkan rakyat sengsara. Subsidi dikurangi karena memberatkan APBN, padahal di sisi lain dana untuk para pemimpin dan wakil-wakil rakyat menyerap hampir 50% APBN. Subsidi untuk rakyat dikurangi, subsidi untuk mereka... tetap... akhirnya rakyat nelangsa. Prinsip mereka: "Yang penting gue ma keluarga gue bisa makan...".
Satu hal yang menarik adalah penampilan para generasi muda yang berprestasi, bagus... itu salah satu cara mengusung nasionalisme. Hanya saja perlu diingat, masih banyak generasi muda lainnya yang berprestasi namun mereka terhalang masalah keuangan... mampukah pemerintah membantunya? Kemudian, acara tersebut juga memperkenalkan slogan baru: Indonesia Bisa. Membaca postingan salah seorang kawan, saya juga berpikir. Bisa berarti ganda: mampu atau racun. Kl maksudnya Indonesia mampu, bagus... berarti harus ada perbaikan sana sini di negeri ini. Namun, jangan sampai menjadi racun... korupsi yang tidak pernah berhasil diberantas, rakyat yang makin tercekik, kriminalitas yang makin tinggi, dsb.... Kawan tersebut lebih menyukai slogan "Indonesia Bangkit".... Indonesia bisa lebih menyerupai iklan sebuah produk dibandingkan slogan bangsa.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Kenapa dipilih hari jadinya Budi Utomo? Kenapa bukan Syarikat Islam? Apakah karena mengandung kata "ISLAM" yang dianggap tidak nasionalis? Padahal BU pun hanya terdiri dari segelintir dokter awalnya, bahkan lebih mencerminkan sifat ke-Belanda-an dibandingkan SI. SI mempunyai anggota di hampir nusantara, tanpa batasan siapa saja yang bisa jadi anggotanya. Atau hanya karena tahun 1908, BU menggelar kongres pertama sehingga diakui sebagai hari jadinya dan kemudian dijadikan "Hari Kebangkitan Nasional". SI berdiri tahun 1905, namun tidak diakui Pemerintah Belanda sehingga tidak bisa menyelenggarakan kongres. Kongres baru dilakukan setelah diakui Pemerintah Belanda tahun 1916.
Sekarang, pertanyaannya... setelah perhelatan akbar ini? Apakah yang bisa dilakukan agar terwujud "Indonesia Bangkit"..... Mampu dan mau kan bangsa ini bangkit?
Mendengar itu, membuat saya berpikir.... Apakah benar? Apakah perlu? Dengan perhitungan kasar, untuk biaya acara tersebut pasti menghabiskan dana milyaran rupiah. Misalnya dari kostum, katakanlah dengan standar biaya 100rb per kostum dengan jumlah pendukung acara hampir 10ribu (lebih dari 5 ribu TNI, ribuan penari, belum lagi pendukung lainnya). Katakanlah 10ribu, dikalikan 100ribu, maka untuk kostum memakan biaya 1000juta alias 1 milyar. belum lagi perlengkapan lainnya. Alangkah sayangnya, dana sebesar itu digunakan untuk perhelatan di saat bangsa ini sedang membutuhkan dana untuk menghadapi krisis.
Apakah tidak boleh mengadakan perhelatan akbar demi rasa nasionalis? silahkan, namun lihat momen yang tepat. Saat ini banyak berita tentang peristiwa bunuh diri akibat cekikan ekonomi, bayi-bayi kurang gizi, penduduk kelaparan, dan banyak berita-berita menyedihkan lainnya. Pada saat ini, rasa nasionalis berkurang karena mereka membutuhkan makan. Bukan semboyan atau kata-kata. Alangkah baiknya, saat ini dana tersebut digunakan untuk perbaikan masyarakat. Ah..., bingung mengatakannya.... Nanti dibilang tidak ada rasa nasionalis. Rasa nasionalis akan muncul bila bangsa bangga akan negaranya, bangsa akan bangga kalau dia merasa tercukupi. Bagaimana nasionalisme akan muncul melihat para pemimpin bangsa foya-foya sedangkan rakyat sengsara. Subsidi dikurangi karena memberatkan APBN, padahal di sisi lain dana untuk para pemimpin dan wakil-wakil rakyat menyerap hampir 50% APBN. Subsidi untuk rakyat dikurangi, subsidi untuk mereka... tetap... akhirnya rakyat nelangsa. Prinsip mereka: "Yang penting gue ma keluarga gue bisa makan...".
Satu hal yang menarik adalah penampilan para generasi muda yang berprestasi, bagus... itu salah satu cara mengusung nasionalisme. Hanya saja perlu diingat, masih banyak generasi muda lainnya yang berprestasi namun mereka terhalang masalah keuangan... mampukah pemerintah membantunya? Kemudian, acara tersebut juga memperkenalkan slogan baru: Indonesia Bisa. Membaca postingan salah seorang kawan, saya juga berpikir. Bisa berarti ganda: mampu atau racun. Kl maksudnya Indonesia mampu, bagus... berarti harus ada perbaikan sana sini di negeri ini. Namun, jangan sampai menjadi racun... korupsi yang tidak pernah berhasil diberantas, rakyat yang makin tercekik, kriminalitas yang makin tinggi, dsb.... Kawan tersebut lebih menyukai slogan "Indonesia Bangkit".... Indonesia bisa lebih menyerupai iklan sebuah produk dibandingkan slogan bangsa.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Kenapa dipilih hari jadinya Budi Utomo? Kenapa bukan Syarikat Islam? Apakah karena mengandung kata "ISLAM" yang dianggap tidak nasionalis? Padahal BU pun hanya terdiri dari segelintir dokter awalnya, bahkan lebih mencerminkan sifat ke-Belanda-an dibandingkan SI. SI mempunyai anggota di hampir nusantara, tanpa batasan siapa saja yang bisa jadi anggotanya. Atau hanya karena tahun 1908, BU menggelar kongres pertama sehingga diakui sebagai hari jadinya dan kemudian dijadikan "Hari Kebangkitan Nasional". SI berdiri tahun 1905, namun tidak diakui Pemerintah Belanda sehingga tidak bisa menyelenggarakan kongres. Kongres baru dilakukan setelah diakui Pemerintah Belanda tahun 1916.
Sekarang, pertanyaannya... setelah perhelatan akbar ini? Apakah yang bisa dilakukan agar terwujud "Indonesia Bangkit"..... Mampu dan mau kan bangsa ini bangkit?
Monday, May 12, 2008
Heboh Nikah Sang Duda
Minggu kemarin (11/05/08), akhirnya Pak Hidayat ketua MPR menikah lagi setelah beberapa bulan menduda karena istri beliau dipanggil Sang Khalik. Bagi beberapa orang, hal ini dijadikan isyu untuk menjatuhkan beliau. Terutama oleh orang-orang yang mengaku "aktivis perempuan". Ada yang bilang Beliau tidak setia dengan istrinya, kuburan belum kering sudah menikah lagi. Ada yang juga bilang kalau bukan ketua MPR mana mungkin istri yang sekarang mau menerima lamarannya. walah....... sungguh suatu sangkaan yang dibuat2. Tapi aku tidak mau membahas itu.
Memang, buat lelaki menikah setelah istri meninggal lebih mudah dibandingkan wanita. Tetapi, saya yakin mereka lelaki setia. Kalau mereka tidak setia, pasti sebelum istri meninggal pun sudah selingkuh, mulai cuma one-night stand atau sampai nikah siri. Lalu kenapa sih diributkan? biasa saja toh.... Secara biologis, sel reproduksi lelaki tetap diproduksi oleh tubuh sampai kakek-kakek yang sudah jalan bongkok pun tetap berproduksi. Bedanya adalah kualitasnya, makin tua tentu saja makin turun kualitasnya. Namun umur 20 - 50 tahun, aku rasa adalah range umur yang masih produktif dengan kualitas yang masih bagus (umumnya). Selain itu, pada range usia ini, ketertarikan seksual lelaki masih cukup besar. Sehingga wajar, apabila lelaki tersebut memilih menikah lagi apabila istri tersayangnya sudah tiada. Alasan utamanya, daripada melakukan zinah (atau 'self-service') kan lebih baik ada "lawan tempur" yang resmi.
Tapi aku rasa bukan itu yang menjadi hal utama, sebagai seorang suami pasti membutuhkan seorang istri yang mampu membantunya mempersiapkan hari-hari sibuknya. Apalagi dengan posisi seperti beliau yang pasti super duper sibuk, peranan seorang istri sangat penting. Mulai dari menyiapkan baju untuk bekerja sampai menenangkan di saat pulang kerja yang penuh dengan stress. Tentu saja, adanya istri akan membuat mental lebih stabil... emosi terkendali... dan terpenting adalah bila butuh sharing pendapat, maka kerahasiaan akan terjaga.
Apa saran para "aktivis" tersebut untuk lelaki yang memang masih membutuhkan peran seorang istri? Apakah harus "menyewa" perempuan lain untuk membantunya? Untuk urusan membereskan rumah, oke... bisa menggaji pembantu. Tapi untuk urusan lain, terutama bathin? Apakah harus membayar "wanita lain"? Apakah pilihan ini yang lebih disukai para aktivis tersebut bila suami mereka membutuhkan figur istri di saat mereka sudah dipanggil Sang Penguasa Alam.
Yang lebih mengherankan adalah pendapat: "Kalau dia bukan Ketua MPR, pasti calon istrinya belum tentu mau". Dan pendapat itu diungkapkan oleh aktivis wanita juga. Bukankah dengan mengatakan itu dia juga menjelek-jelekkan kaumnya sendiri? Bukankah itu bisa menimbulkan kesan "perempuan itu matre"? Kok bisa mereka mengatakan hal ini? Dimana otaknya? Lagipula, kalau Pak Hidayat itu bukan ketua MPR, katakanlah cuma guru ngaji di kampung, apakah mereka akan peduli bila mereka tahu beliau akan menikah lagi? Coba lihat banyak juga tokoh-tokoh lain yang menikah lagi setelah cerai atau istri meninggal, tapi tidak banyak yang berkomentar.
Dan, yang lebih menyesakkan hati adalah kebanyakan yang berkomentar seperti itu adalah para wanita muslim yang mengaku sebagai aktivis perempuan. Mereka tidak berusaha memahami ajaran agamanya sendiri, apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan. Doktrin yang mereka terima, menjadikan mereka mengukur segala sesuatu dengan ukuran "kemanusiaan" yang lebih banyak salah kaprah. Apakah mereka tidak paham, kedudukan wanita 3 kali lebih mulia daripada lelaki di dalam Alquran. Namun, Allah mengutus lelaki menjadi imam agar semuanya seimbang. Kalaupun pelaksanaan berbeda, karena banyak dari manusia (lelaki dan perempuan) tidak mencoba menggali makna yang ada di dalam Alquran, bahkan ada yang mencoba menafsirkan ayat dengan keinginan hatinya saja.
Ya, semoga kita semua dalam lindungan Alloh... dapat menilai mana yang benar dan mana yang salah tanpa mencoba bermain dengan rasio.
Memang, buat lelaki menikah setelah istri meninggal lebih mudah dibandingkan wanita. Tetapi, saya yakin mereka lelaki setia. Kalau mereka tidak setia, pasti sebelum istri meninggal pun sudah selingkuh, mulai cuma one-night stand atau sampai nikah siri. Lalu kenapa sih diributkan? biasa saja toh.... Secara biologis, sel reproduksi lelaki tetap diproduksi oleh tubuh sampai kakek-kakek yang sudah jalan bongkok pun tetap berproduksi. Bedanya adalah kualitasnya, makin tua tentu saja makin turun kualitasnya. Namun umur 20 - 50 tahun, aku rasa adalah range umur yang masih produktif dengan kualitas yang masih bagus (umumnya). Selain itu, pada range usia ini, ketertarikan seksual lelaki masih cukup besar. Sehingga wajar, apabila lelaki tersebut memilih menikah lagi apabila istri tersayangnya sudah tiada. Alasan utamanya, daripada melakukan zinah (atau 'self-service') kan lebih baik ada "lawan tempur" yang resmi.
Tapi aku rasa bukan itu yang menjadi hal utama, sebagai seorang suami pasti membutuhkan seorang istri yang mampu membantunya mempersiapkan hari-hari sibuknya. Apalagi dengan posisi seperti beliau yang pasti super duper sibuk, peranan seorang istri sangat penting. Mulai dari menyiapkan baju untuk bekerja sampai menenangkan di saat pulang kerja yang penuh dengan stress. Tentu saja, adanya istri akan membuat mental lebih stabil... emosi terkendali... dan terpenting adalah bila butuh sharing pendapat, maka kerahasiaan akan terjaga.
Apa saran para "aktivis" tersebut untuk lelaki yang memang masih membutuhkan peran seorang istri? Apakah harus "menyewa" perempuan lain untuk membantunya? Untuk urusan membereskan rumah, oke... bisa menggaji pembantu. Tapi untuk urusan lain, terutama bathin? Apakah harus membayar "wanita lain"? Apakah pilihan ini yang lebih disukai para aktivis tersebut bila suami mereka membutuhkan figur istri di saat mereka sudah dipanggil Sang Penguasa Alam.
Yang lebih mengherankan adalah pendapat: "Kalau dia bukan Ketua MPR, pasti calon istrinya belum tentu mau". Dan pendapat itu diungkapkan oleh aktivis wanita juga. Bukankah dengan mengatakan itu dia juga menjelek-jelekkan kaumnya sendiri? Bukankah itu bisa menimbulkan kesan "perempuan itu matre"? Kok bisa mereka mengatakan hal ini? Dimana otaknya? Lagipula, kalau Pak Hidayat itu bukan ketua MPR, katakanlah cuma guru ngaji di kampung, apakah mereka akan peduli bila mereka tahu beliau akan menikah lagi? Coba lihat banyak juga tokoh-tokoh lain yang menikah lagi setelah cerai atau istri meninggal, tapi tidak banyak yang berkomentar.
Dan, yang lebih menyesakkan hati adalah kebanyakan yang berkomentar seperti itu adalah para wanita muslim yang mengaku sebagai aktivis perempuan. Mereka tidak berusaha memahami ajaran agamanya sendiri, apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan. Doktrin yang mereka terima, menjadikan mereka mengukur segala sesuatu dengan ukuran "kemanusiaan" yang lebih banyak salah kaprah. Apakah mereka tidak paham, kedudukan wanita 3 kali lebih mulia daripada lelaki di dalam Alquran. Namun, Allah mengutus lelaki menjadi imam agar semuanya seimbang. Kalaupun pelaksanaan berbeda, karena banyak dari manusia (lelaki dan perempuan) tidak mencoba menggali makna yang ada di dalam Alquran, bahkan ada yang mencoba menafsirkan ayat dengan keinginan hatinya saja.
Ya, semoga kita semua dalam lindungan Alloh... dapat menilai mana yang benar dan mana yang salah tanpa mencoba bermain dengan rasio.
Subscribe to:
Posts (Atom)