Minggu2 ini, ada perhelatan akbar di negara tercinta ini. Seorang presiden negara adikuasa mau menyempatkan sebuah negara berkembang yang selalu dilecehkannya. Bahkan, sudah beberapa kali dikenakan embargo selama masa pemerintahannya. Semua orang sibuk, mulai mengurusi persiapan kedatangan sang presiden sampai menyediakan keperluan untuk pengawal2nya.
Hemm... kalau diperhatikan kedatangan satu orang ini seperti kedatangan seorang "dewa". Banyak kepentingan rakyat yang dipaksa dikorbankan, mulai dari kaki lima, tukang becak, bahkan sampai fasilitas umum seperti telepon seluler yang terpaksa diacak untuk menangkal sinyal terorisme. Hemm... apakah harus seperti itu? Belum lagi dengan perusakan Kebon Raya Bogor, yang merupakan konservasi alam dimana salah satu berita yang aku dengar, kolam teratai di tengah lapangan terpaksa digusur untuk keperluan helipad "sang dewa". Padahal.... dia cuma mampir 6 jam, tidak lebih... tetapi menghabiskan dana 6 milyar (ini menurut sebuah televisi swasta).
6 milyar utnuk 6 jam, apakah ini berharga? satu jam seharga satu milyar??? Sedemikian mahalnya kah nyawa orang ini... padahal dengan biaya sebanyak itu sudah berapa banyak bayi kekurangan gizi dapat disembuhkan. Berapa banyak pedagang kaki lima yang bisa dapat kios, dan banyak lagi.... Itu bila hitungan berdasarkan pembangunan sarana untuk sang dewa ini, ya seperti helipad, pos penjagaan, dan perbaikan sarana lainnya. Belum ditambah dengan kerugian yang disebabkan oleh perhelatan ini....
Pedagang kaki lima harus berhenti berjualan selama lima hari, memang mereka membuat jalan macet... tapi kalau sampai dilarang berjualan tanpa ada kompensasi. Kasihan keluarganya, belum lagi barang dagangannya yang mungkin akan rusak/busuk. Kalau dihitung berapa kerugian yang mereka alami, termasuk juga tukang-tukang becak, angkot, para pegawai, dan banyak lagi....
Hanya kunjunga satu orang, kita harus menanggung biaya yang cukup besar. Padahal kedatangannya belum tentu membawa berkah bagi bangsa ini. Memang benar, kita patut bangga karena George W. Bush mau menyempatkan diri bertandang ke Indonesia. Tapi apakah pengorbanan ini sesuai dengan hasilnya.... Mari kita tunggu manfaatnya!
Friday, November 10, 2006
Monday, October 16, 2006
Menghormati Ramadhon
Ramadhon, bulan yang penuh berkah.... Benarkah? Bagi yang mempercayainya, tentu saja ini bulan penuh berkah, bahkan mereka tidak segan-segan berkorban untuk mendapatkannya. Mereka khawatir tahun depan mereka tidak bertemu ramadhan lagi.
Tapi bagi yang lain, mungkin akan menganggap Ramadhan sebagai penghambat rezeki. Yang dagang makanan dan minuman di siang hari tentu tidak seramai bulan-bulan lainnya. Buat muslim yang tidak kuat imannya, Ramadhan menyusahkan perut mereka... menahan lapar dan haus di siang hari. Padahal Alloh berjanji mengunci Setan di neraka jahanam sampai Ramadhan selesai. Lalu mengapa masih banyak orang yang tidak menghormati Ramadhan?
Ternyata, yang terkunci di Neraka adalah Setan dari golongan jin... sedangkan ada makhluk lain yang dapat juga menjadi setan, namanya manusia. Ya kita-kita ini.... Lalu yang manakah kelompok kita? Yang menghormati Ramadhan-kah? Atau sebaliknya?
Setiap hari aku menggunakan KRL sebagai alat untuk mencapai kantor, dan setiap hari juga aku melihat pemandangan ini. Warung-warung di peron yang menyediakan sarapan dan makan siang, sesuatu yang seharusnya menjadi perhatian semua muslim terutama penguasa stasiun. Memang benar, mereka yang memilih tidak berpuasa... tetapi apakah tidak ada beban buat kita yang menjual makanan kepada muslim yang seharusnya berpuasa tetapi tidak melakukannya (kecuali wanita yang sedang "datang bulan" atau musafir).
Ada seorang ulama/ustadz yang mengatakan tidak apa-apa menjual makanan di siang hari, karena mungkin ada yang membutuhkan. Saya setuju... sangat setuju... tetapi bukan berarti setiap orang yang ingin makan di warung itu diterima. Tetap harus ada seleksi dulu, tanyakan agamanya, kenapa tidak berpuasa sampai sejelas-jelasnya. Kl dapat diterima secara Syar'i, barulah kita berikan makanannya. Tetapi kl tidak, hemmm...., lebih baik membatalkannya. Memang ada rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa: wanita haid, orang sakit, orang yang bekerja memerlukan tenaga, dan tentu saja musafir. Tetapi tetap saja, kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu. Misalnya Musafir, silahkan makan dan minum... tetapi tidak untuk merokok apalagi minum minuman keras/alkohol. Wanita haid, memang tidak bole berpuasa... tetap saja harus menghormati yang berpuasa, mengurangi cemilan, dan hal-hal lain yang harus dijaga di bulan puasa. Apalagi orang sakit, diperbolehkan makan dan minum terutama obatnya... tetapi tidak ada keringanan untuk hal-hal di luar itu seperti rokok, alkohol, dan sebagainya.
Kalau sebagai muslim tidak dapat menghormati Ramadhan, bagaimana bisa kita meminta umat lain menghormati Ramadhan. Lihatlah bulan puasa makin tidak terlihat, orang masih cuek merokok di tempat umum, makan dan minum.... hemm. Mudah-mudahan Alloh tidak murka melihat keadaan ini......
Tapi bagi yang lain, mungkin akan menganggap Ramadhan sebagai penghambat rezeki. Yang dagang makanan dan minuman di siang hari tentu tidak seramai bulan-bulan lainnya. Buat muslim yang tidak kuat imannya, Ramadhan menyusahkan perut mereka... menahan lapar dan haus di siang hari. Padahal Alloh berjanji mengunci Setan di neraka jahanam sampai Ramadhan selesai. Lalu mengapa masih banyak orang yang tidak menghormati Ramadhan?
Ternyata, yang terkunci di Neraka adalah Setan dari golongan jin... sedangkan ada makhluk lain yang dapat juga menjadi setan, namanya manusia. Ya kita-kita ini.... Lalu yang manakah kelompok kita? Yang menghormati Ramadhan-kah? Atau sebaliknya?
Setiap hari aku menggunakan KRL sebagai alat untuk mencapai kantor, dan setiap hari juga aku melihat pemandangan ini. Warung-warung di peron yang menyediakan sarapan dan makan siang, sesuatu yang seharusnya menjadi perhatian semua muslim terutama penguasa stasiun. Memang benar, mereka yang memilih tidak berpuasa... tetapi apakah tidak ada beban buat kita yang menjual makanan kepada muslim yang seharusnya berpuasa tetapi tidak melakukannya (kecuali wanita yang sedang "datang bulan" atau musafir).
Ada seorang ulama/ustadz yang mengatakan tidak apa-apa menjual makanan di siang hari, karena mungkin ada yang membutuhkan. Saya setuju... sangat setuju... tetapi bukan berarti setiap orang yang ingin makan di warung itu diterima. Tetap harus ada seleksi dulu, tanyakan agamanya, kenapa tidak berpuasa sampai sejelas-jelasnya. Kl dapat diterima secara Syar'i, barulah kita berikan makanannya. Tetapi kl tidak, hemmm...., lebih baik membatalkannya. Memang ada rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa: wanita haid, orang sakit, orang yang bekerja memerlukan tenaga, dan tentu saja musafir. Tetapi tetap saja, kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu. Misalnya Musafir, silahkan makan dan minum... tetapi tidak untuk merokok apalagi minum minuman keras/alkohol. Wanita haid, memang tidak bole berpuasa... tetap saja harus menghormati yang berpuasa, mengurangi cemilan, dan hal-hal lain yang harus dijaga di bulan puasa. Apalagi orang sakit, diperbolehkan makan dan minum terutama obatnya... tetapi tidak ada keringanan untuk hal-hal di luar itu seperti rokok, alkohol, dan sebagainya.
Kalau sebagai muslim tidak dapat menghormati Ramadhan, bagaimana bisa kita meminta umat lain menghormati Ramadhan. Lihatlah bulan puasa makin tidak terlihat, orang masih cuek merokok di tempat umum, makan dan minum.... hemm. Mudah-mudahan Alloh tidak murka melihat keadaan ini......
Friday, October 13, 2006
Puasa dan Berbagi
Hemm... bulan Ramadhan sudah lewat setengahnya. Orang pun sudah bersiap-siap menyambut Idul Fitri a.k.a LEBARAN. Segala persiapan sudah mulai dihitung, mulai pakaian baru, kue-kue kering sampai bersilaturahmi dengan keluarga besar (termasuk mudik).
Walau Puasa-ku kali ini sepertinya belum lebih baik dari puasa lalu, tapi setidaknya banyak hal yang aku dapatkan di puasa kali ini. Tahun lalu, ketika berbuka aku mampu langsung makan besar untuk berbuka (maksudnya makan nasi + lauk-pauknya). Namun, puasa kali ini perutku sudah tidak mampu. Istriku bilang, "Ayah kan udah lebih tua". Hah, umurku baru 30 thn sudah dibulang tua (aku masih merasa baru 20 thn). Tetapi memang terasa dengan rutinitas, fisik ini menjadi lebih rendah stamina-nya sebelum masuk bulan puasa. Tapi ketika kulihat teman2, yang begitu azan langsung mengganyang box makanan (nasi jatah kantor) itu aku terkagum-kagum (tentunya setelah minum dulu untuk berbuka). Tapi sayangnya, kemubaziran masih ada. Banyak di antara kawan-kawan tidak dapat menghabiskan makanannya. Akhirnya, sisa makanan itu masuk tong sampah dimana bila dihitung mungkin bisa untuk dijadikan 10 atau lebih box makanan.
Ketika perjalanan pulang kantor pun begitu, Sepertinya beberapa masjid atau yayasan mengadakan buka bersama orang-orang tertentu (Kurang Mampu, Yatim Piatu, Janda, dsb-lah). Ini terlihat ketika di terminal banyak orang yang menenteng bungkusan seperti nasi box. Di sana terlihat ada yang bawa satu kotak, dua kotak, bahkan sampai beberapa kotak. yang jadi pertanyaan apakah mereka mengambil kotak-kotak makanan itu sesuai dengan jatah mereka atau berebut banyak-banyakan ambil. Mumpung ada kesempatan, mungkin itu yang ada di benak mereka. Satu lagi yang menjadi perhatianku, banyak yang menenteng bungkusan tersebut aku lihat berpakaian rapi (bahkan menurutku cukup bagus, dengan harga pakaian yang lumayan), sedangkan yang lainnya memang lusuh-lusuh. Apa ini juga aji mumpung?
Ya aku juga merasakan ketika masih anak-anak saling rebutan dengan teman kalau ada buka bersama. Atau membawa pulang jatah kawan kantor yang tidak masuk ketika puasa tahun lalu. Aku merenung, memang ternyata sifat serakah juga fitrah manusia. Ya mudah-mudahan aku dan keluargaku bisa dihindarkan dari pengaruh sifat ini. Saling berbagi memang harus dibiasakan dari kecil.
Walau Puasa-ku kali ini sepertinya belum lebih baik dari puasa lalu, tapi setidaknya banyak hal yang aku dapatkan di puasa kali ini. Tahun lalu, ketika berbuka aku mampu langsung makan besar untuk berbuka (maksudnya makan nasi + lauk-pauknya). Namun, puasa kali ini perutku sudah tidak mampu. Istriku bilang, "Ayah kan udah lebih tua". Hah, umurku baru 30 thn sudah dibulang tua (aku masih merasa baru 20 thn). Tetapi memang terasa dengan rutinitas, fisik ini menjadi lebih rendah stamina-nya sebelum masuk bulan puasa. Tapi ketika kulihat teman2, yang begitu azan langsung mengganyang box makanan (nasi jatah kantor) itu aku terkagum-kagum (tentunya setelah minum dulu untuk berbuka). Tapi sayangnya, kemubaziran masih ada. Banyak di antara kawan-kawan tidak dapat menghabiskan makanannya. Akhirnya, sisa makanan itu masuk tong sampah dimana bila dihitung mungkin bisa untuk dijadikan 10 atau lebih box makanan.
Ketika perjalanan pulang kantor pun begitu, Sepertinya beberapa masjid atau yayasan mengadakan buka bersama orang-orang tertentu (Kurang Mampu, Yatim Piatu, Janda, dsb-lah). Ini terlihat ketika di terminal banyak orang yang menenteng bungkusan seperti nasi box. Di sana terlihat ada yang bawa satu kotak, dua kotak, bahkan sampai beberapa kotak. yang jadi pertanyaan apakah mereka mengambil kotak-kotak makanan itu sesuai dengan jatah mereka atau berebut banyak-banyakan ambil. Mumpung ada kesempatan, mungkin itu yang ada di benak mereka. Satu lagi yang menjadi perhatianku, banyak yang menenteng bungkusan tersebut aku lihat berpakaian rapi (bahkan menurutku cukup bagus, dengan harga pakaian yang lumayan), sedangkan yang lainnya memang lusuh-lusuh. Apa ini juga aji mumpung?
Ya aku juga merasakan ketika masih anak-anak saling rebutan dengan teman kalau ada buka bersama. Atau membawa pulang jatah kawan kantor yang tidak masuk ketika puasa tahun lalu. Aku merenung, memang ternyata sifat serakah juga fitrah manusia. Ya mudah-mudahan aku dan keluargaku bisa dihindarkan dari pengaruh sifat ini. Saling berbagi memang harus dibiasakan dari kecil.
Subscribe to:
Posts (Atom)