Monday, October 16, 2006

Menghormati Ramadhon

Ramadhon, bulan yang penuh berkah.... Benarkah? Bagi yang mempercayainya, tentu saja ini bulan penuh berkah, bahkan mereka tidak segan-segan berkorban untuk mendapatkannya. Mereka khawatir tahun depan mereka tidak bertemu ramadhan lagi.

Tapi bagi yang lain, mungkin akan menganggap Ramadhan sebagai penghambat rezeki. Yang dagang makanan dan minuman di siang hari tentu tidak seramai bulan-bulan lainnya. Buat muslim yang tidak kuat imannya, Ramadhan menyusahkan perut mereka... menahan lapar dan haus di siang hari. Padahal Alloh berjanji mengunci Setan di neraka jahanam sampai Ramadhan selesai. Lalu mengapa masih banyak orang yang tidak menghormati Ramadhan?

Ternyata, yang terkunci di Neraka adalah Setan dari golongan jin... sedangkan ada makhluk lain yang dapat juga menjadi setan, namanya manusia. Ya kita-kita ini.... Lalu yang manakah kelompok kita? Yang menghormati Ramadhan-kah? Atau sebaliknya?

Setiap hari aku menggunakan KRL sebagai alat untuk mencapai kantor, dan setiap hari juga aku melihat pemandangan ini. Warung-warung di peron yang menyediakan sarapan dan makan siang, sesuatu yang seharusnya menjadi perhatian semua muslim terutama penguasa stasiun. Memang benar, mereka yang memilih tidak berpuasa... tetapi apakah tidak ada beban buat kita yang menjual makanan kepada muslim yang seharusnya berpuasa tetapi tidak melakukannya (kecuali wanita yang sedang "datang bulan" atau musafir).

Ada seorang ulama/ustadz yang mengatakan tidak apa-apa menjual makanan di siang hari, karena mungkin ada yang membutuhkan. Saya setuju... sangat setuju... tetapi bukan berarti setiap orang yang ingin makan di warung itu diterima. Tetap harus ada seleksi dulu, tanyakan agamanya, kenapa tidak berpuasa sampai sejelas-jelasnya. Kl dapat diterima secara Syar'i, barulah kita berikan makanannya. Tetapi kl tidak, hemmm...., lebih baik membatalkannya. Memang ada rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa: wanita haid, orang sakit, orang yang bekerja memerlukan tenaga, dan tentu saja musafir. Tetapi tetap saja, kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu. Misalnya Musafir, silahkan makan dan minum... tetapi tidak untuk merokok apalagi minum minuman keras/alkohol. Wanita haid, memang tidak bole berpuasa... tetap saja harus menghormati yang berpuasa, mengurangi cemilan, dan hal-hal lain yang harus dijaga di bulan puasa. Apalagi orang sakit, diperbolehkan makan dan minum terutama obatnya... tetapi tidak ada keringanan untuk hal-hal di luar itu seperti rokok, alkohol, dan sebagainya.

Kalau sebagai muslim tidak dapat menghormati Ramadhan, bagaimana bisa kita meminta umat lain menghormati Ramadhan. Lihatlah bulan puasa makin tidak terlihat, orang masih cuek merokok di tempat umum, makan dan minum.... hemm. Mudah-mudahan Alloh tidak murka melihat keadaan ini......

No comments: