Minggu kemarin (11/05/08), akhirnya Pak Hidayat ketua MPR menikah lagi setelah beberapa bulan menduda karena istri beliau dipanggil Sang Khalik. Bagi beberapa orang, hal ini dijadikan isyu untuk menjatuhkan beliau. Terutama oleh orang-orang yang mengaku "aktivis perempuan". Ada yang bilang Beliau tidak setia dengan istrinya, kuburan belum kering sudah menikah lagi. Ada yang juga bilang kalau bukan ketua MPR mana mungkin istri yang sekarang mau menerima lamarannya. walah....... sungguh suatu sangkaan yang dibuat2. Tapi aku tidak mau membahas itu.
Memang, buat lelaki menikah setelah istri meninggal lebih mudah dibandingkan wanita. Tetapi, saya yakin mereka lelaki setia. Kalau mereka tidak setia, pasti sebelum istri meninggal pun sudah selingkuh, mulai cuma one-night stand atau sampai nikah siri. Lalu kenapa sih diributkan? biasa saja toh.... Secara biologis, sel reproduksi lelaki tetap diproduksi oleh tubuh sampai kakek-kakek yang sudah jalan bongkok pun tetap berproduksi. Bedanya adalah kualitasnya, makin tua tentu saja makin turun kualitasnya. Namun umur 20 - 50 tahun, aku rasa adalah range umur yang masih produktif dengan kualitas yang masih bagus (umumnya). Selain itu, pada range usia ini, ketertarikan seksual lelaki masih cukup besar. Sehingga wajar, apabila lelaki tersebut memilih menikah lagi apabila istri tersayangnya sudah tiada. Alasan utamanya, daripada melakukan zinah (atau 'self-service') kan lebih baik ada "lawan tempur" yang resmi.
Tapi aku rasa bukan itu yang menjadi hal utama, sebagai seorang suami pasti membutuhkan seorang istri yang mampu membantunya mempersiapkan hari-hari sibuknya. Apalagi dengan posisi seperti beliau yang pasti super duper sibuk, peranan seorang istri sangat penting. Mulai dari menyiapkan baju untuk bekerja sampai menenangkan di saat pulang kerja yang penuh dengan stress. Tentu saja, adanya istri akan membuat mental lebih stabil... emosi terkendali... dan terpenting adalah bila butuh sharing pendapat, maka kerahasiaan akan terjaga.
Apa saran para "aktivis" tersebut untuk lelaki yang memang masih membutuhkan peran seorang istri? Apakah harus "menyewa" perempuan lain untuk membantunya? Untuk urusan membereskan rumah, oke... bisa menggaji pembantu. Tapi untuk urusan lain, terutama bathin? Apakah harus membayar "wanita lain"? Apakah pilihan ini yang lebih disukai para aktivis tersebut bila suami mereka membutuhkan figur istri di saat mereka sudah dipanggil Sang Penguasa Alam.
Yang lebih mengherankan adalah pendapat: "Kalau dia bukan Ketua MPR, pasti calon istrinya belum tentu mau". Dan pendapat itu diungkapkan oleh aktivis wanita juga. Bukankah dengan mengatakan itu dia juga menjelek-jelekkan kaumnya sendiri? Bukankah itu bisa menimbulkan kesan "perempuan itu matre"? Kok bisa mereka mengatakan hal ini? Dimana otaknya? Lagipula, kalau Pak Hidayat itu bukan ketua MPR, katakanlah cuma guru ngaji di kampung, apakah mereka akan peduli bila mereka tahu beliau akan menikah lagi? Coba lihat banyak juga tokoh-tokoh lain yang menikah lagi setelah cerai atau istri meninggal, tapi tidak banyak yang berkomentar.
Dan, yang lebih menyesakkan hati adalah kebanyakan yang berkomentar seperti itu adalah para wanita muslim yang mengaku sebagai aktivis perempuan. Mereka tidak berusaha memahami ajaran agamanya sendiri, apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan. Doktrin yang mereka terima, menjadikan mereka mengukur segala sesuatu dengan ukuran "kemanusiaan" yang lebih banyak salah kaprah. Apakah mereka tidak paham, kedudukan wanita 3 kali lebih mulia daripada lelaki di dalam Alquran. Namun, Allah mengutus lelaki menjadi imam agar semuanya seimbang. Kalaupun pelaksanaan berbeda, karena banyak dari manusia (lelaki dan perempuan) tidak mencoba menggali makna yang ada di dalam Alquran, bahkan ada yang mencoba menafsirkan ayat dengan keinginan hatinya saja.
Ya, semoga kita semua dalam lindungan Alloh... dapat menilai mana yang benar dan mana yang salah tanpa mencoba bermain dengan rasio.
Monday, May 12, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment