Kemarin, tanggal 20 Mei 2008, bertepatan dengan peringatan 100 tahun berdirinya Budi Utomo yang dicanangkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, seluruh stasiun tv menampilkan acara yang sama. Acara tersebut terlihat mewah, dengan jumlah pendukung acara yang banyak (ribuan, namanya juga pagelaran kolosal) belum lagi tamu undangan yang memenuhi Istora Senayan. Namun, karena bosan akhirnya pindah channel ternyata TVRI Bandung tidak menyiarkan acara tersebut, hanya sebuah diskusi ttg kebangkitan nasional. Tamunya adalah salah seorang tokoh Jawa barat (lupa namanya). Ketika pembawa acara menanyakan, "Kenapa 100 tahun ini diperingati besar-besaran, padahal banyak rakyat kelaparan, harga mulai naik?" ya kira-kira begitulah pertanyaannya. Jawaban dari tokoh tersebut membuat saya berpikir. Beliau menjawab, "Loh, bangsa kita ini memang senang dengan upacara-upacara. Mau menanam padi, ada upacara. Mau panen, ada upacara. Ya wajar, kalau 100 tahun ini ada upacara."
Mendengar itu, membuat saya berpikir.... Apakah benar? Apakah perlu? Dengan perhitungan kasar, untuk biaya acara tersebut pasti menghabiskan dana milyaran rupiah. Misalnya dari kostum, katakanlah dengan standar biaya 100rb per kostum dengan jumlah pendukung acara hampir 10ribu (lebih dari 5 ribu TNI, ribuan penari, belum lagi pendukung lainnya). Katakanlah 10ribu, dikalikan 100ribu, maka untuk kostum memakan biaya 1000juta alias 1 milyar. belum lagi perlengkapan lainnya. Alangkah sayangnya, dana sebesar itu digunakan untuk perhelatan di saat bangsa ini sedang membutuhkan dana untuk menghadapi krisis.
Apakah tidak boleh mengadakan perhelatan akbar demi rasa nasionalis? silahkan, namun lihat momen yang tepat. Saat ini banyak berita tentang peristiwa bunuh diri akibat cekikan ekonomi, bayi-bayi kurang gizi, penduduk kelaparan, dan banyak berita-berita menyedihkan lainnya. Pada saat ini, rasa nasionalis berkurang karena mereka membutuhkan makan. Bukan semboyan atau kata-kata. Alangkah baiknya, saat ini dana tersebut digunakan untuk perbaikan masyarakat. Ah..., bingung mengatakannya.... Nanti dibilang tidak ada rasa nasionalis. Rasa nasionalis akan muncul bila bangsa bangga akan negaranya, bangsa akan bangga kalau dia merasa tercukupi. Bagaimana nasionalisme akan muncul melihat para pemimpin bangsa foya-foya sedangkan rakyat sengsara. Subsidi dikurangi karena memberatkan APBN, padahal di sisi lain dana untuk para pemimpin dan wakil-wakil rakyat menyerap hampir 50% APBN. Subsidi untuk rakyat dikurangi, subsidi untuk mereka... tetap... akhirnya rakyat nelangsa. Prinsip mereka: "Yang penting gue ma keluarga gue bisa makan...".
Satu hal yang menarik adalah penampilan para generasi muda yang berprestasi, bagus... itu salah satu cara mengusung nasionalisme. Hanya saja perlu diingat, masih banyak generasi muda lainnya yang berprestasi namun mereka terhalang masalah keuangan... mampukah pemerintah membantunya? Kemudian, acara tersebut juga memperkenalkan slogan baru: Indonesia Bisa. Membaca postingan salah seorang kawan, saya juga berpikir. Bisa berarti ganda: mampu atau racun. Kl maksudnya Indonesia mampu, bagus... berarti harus ada perbaikan sana sini di negeri ini. Namun, jangan sampai menjadi racun... korupsi yang tidak pernah berhasil diberantas, rakyat yang makin tercekik, kriminalitas yang makin tinggi, dsb.... Kawan tersebut lebih menyukai slogan "Indonesia Bangkit".... Indonesia bisa lebih menyerupai iklan sebuah produk dibandingkan slogan bangsa.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Kenapa dipilih hari jadinya Budi Utomo? Kenapa bukan Syarikat Islam? Apakah karena mengandung kata "ISLAM" yang dianggap tidak nasionalis? Padahal BU pun hanya terdiri dari segelintir dokter awalnya, bahkan lebih mencerminkan sifat ke-Belanda-an dibandingkan SI. SI mempunyai anggota di hampir nusantara, tanpa batasan siapa saja yang bisa jadi anggotanya. Atau hanya karena tahun 1908, BU menggelar kongres pertama sehingga diakui sebagai hari jadinya dan kemudian dijadikan "Hari Kebangkitan Nasional". SI berdiri tahun 1905, namun tidak diakui Pemerintah Belanda sehingga tidak bisa menyelenggarakan kongres. Kongres baru dilakukan setelah diakui Pemerintah Belanda tahun 1916.
Sekarang, pertanyaannya... setelah perhelatan akbar ini? Apakah yang bisa dilakukan agar terwujud "Indonesia Bangkit"..... Mampu dan mau kan bangsa ini bangkit?
Wednesday, May 21, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment